Beranda | Artikel
Belajar Tauhid at-Tarbiyah [bagian 2]
Jumat, 7 Oktober 2016

Alhamdulillah atas segala nikmat dan hidayah yang Allah curahkan kepada kita. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada hamba dan utusan-Nya beserta segenap sahabat dan pengikut setia mereka. Amma ba’du.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, telah kita ketahui bersama tingginya kedudukan tauhid di dalam agama Islam. Karena tauhid merupakan intisari dan pokok agama Islam. Tidak ada islam tanpa tauhid. Para ulama menjelaskan bahwa hakikat islam itu adalah ‘kepasrahan kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya’. Inilah Islam yang diajarkan oleh para rasul ‘alaihimus salam.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Kami utus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (al-Anbiyaa’ : 25). Segenap rasul menyerukan agar manusia menghamba kepada Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya.

Tanpa tauhid maka amal-amal akan menjadi sia-sia. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka kerjakan lalu Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.” (al-Furqan : 23). Hal ini menunjukkan bahwa sebanyak apa pun suatu amal jika tidak dilandasi dengan tauhid dan keimanan maka ia akan lenyap dan sia-sia.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman (yang artinya), “Aku adalah Dzat yang tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan seraya mempersekutukan antara Aku dengan selain-Ku maka Aku tinggalkan dia dan syiriknya itu.” (HR. Muslim)

Tidaklah suatu amal diterima kecuali jika dikerjakan dengan ikhlas karena Allah dan dilandasi tauhid dan keimanan. Adapun tanpa tauhid, keimanan, dan keikhlasan maka amal-amal itu tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa menghendaki perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan, bahwa suatu amal tidak akan diterima kecuali apabila ikhlas dan shawab/benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah dan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itulah di samping harus mengikuti tuntunan nabi maka amal itu harus bersih dari syirik dan perusak niat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu hanya akan dinilai jika disertai dengan niat. Dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Memurnikan ibadah dan amalan untuk Allah; inilah yang disebut dengan ikhlas. Ikhlas adalah syarat diterimanya semua amalan. Ibadah apa pun tidak akan diterima oleh Allah kecuali apabila disertai dengan keikhlasan.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan untuk-Nya agama/amal dengan hanif/menjauhi syirik, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah : 5)

Dengan demikian sudah menjadi kebutuhan bagi kita -bahkan sebuah kebutuhan yang sangat mendesak- untuk mempelajari tauhid dan hal-hal yang bisa menyempurnakannya serta mengetahui apa saja yang bisa merusak dan membatalkannya. Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan melakukan amal-amal salih.


Artikel asli: https://www.al-mubarok.com/belajar-tauhid-at-tarbiyah-bagian-2/